Maintenance Performance P3MB Edisi Ke 6 Good Laboratory Practise di Laboratorium Mikrobiologi
Kegiatan dibuka oleh Bapak Yudo Purnomo selaku Wakil Ketua Umum P3MB. Pada pembukaan ini, dijelaskan mengenai organisasi dan kegiatan organisasi. Sebelum memasuki sesi penyampaian materi, moderator membacakan terlebih dahulu profil narasumber, Bapak Frengki Siburian, Product Manager PT. Agraprana Sena Anugerah.
Penyampaian materi pada acara webinar yang diikuti oleh kurang lebih 140 peserta zoom meeting ini dilaksanakan setelah sebelumnya Bapak Frengki memberikan pengenalan mengenai company profile dari PT. Agraprana Sena Anugerah sebagai distributor dari Neogen, Terragene dan Biotool.
Pemaran materi dimulai dengan penjelasan secara detail mengenai aspek-aspek apa saja yang dibuthkan untuk membangun suatu laboratorium mikrobiologi, dimana hal-hal tersebut mengacu pada ISO 7218:2007: Microbiology of food and animal feeding stuff âââ‰â¬Å General requirements and guidance for microbiological examinations dan KAN K-01.04: Persyaratan Tambahan Akreditasi Laboratorium Pengujian Mikrobiologi.
Dilanjutkan penjelasan mengenai beberapa aspek yang harus dipenuhi dan menjadi perhatian dalam menjalankan sebuah laboratorium mikrobiologi, diantaranya adalah bangunan serta lingkungan laboratorium, personil yang kompeten, peralatan dan perlengkapan yang sesuai dan terkontrol dengan baik, persiapan peralatan gelas terkait preparasi peralatan sebelum dipakai maupun sebelum dibuang nantinya, persiapan dan sterilisasi media yang terkontrol mutunya, pengambilan sampel yang baik agar dapat diambil sampel yang mewakili titik kritisnya sehingga dapat betul-betul terwakili, pengujian di mana sterilisasi sangat penting untuk selalu dilakukan.
Selain pemaparan materi, disisipkan juga sesi tanya jawab saat jeda materi dan di akhir sesi materi. Para peserta webinar mengajukan pertanyaan kepada narasumber melalui kolom chat maupun menggunakan fitur raise hand pada aplikasi zoom.
a. Pertanyaan Yudo Purnomo :
1. Terkait kondisi lingkungan, tadi Bapak sampaikan bahwa Lab harus menetapkan syarat keberterimaan. Apakah Bapak bisa mensharing acuan lingkungan kerja untuk Lab. Mikrobilogi ini Pak?
2. Begitu juga dengan acuan keberterimaan terkait uji sterilitas ruangan maupun uji medianya Pak?
3. Terkait peralatan aliran udara, apakah Bapak bisa bantu jelaskan, mana yang sebaiknya direferensikan bagi teman-teman yang akan mensetup Lab Mikrobiologi, apakah sebaiknya menggunakan Laminar Air Flow (LAF) ataukah Bio Safety Cabinet (BSC)?
4. Bagaimana sebaiknya terkait peralatan media penyimpangan sampel atau reagent Pak?
1. (Menjelaskan acuan lingkungan kerja seperti dalam slide), menggunakan acuan Betty S.L. Jenie dan Srikandi Fardiaz, 1989. Petunjuk Laboratorium Uji Sanitasi dalam Industri Pangan. IPB. Bogor
2. (Menjelaskan acuan keberterimaan seperti dalam slide), keberterimaan masing-masing cawan maksimal 15 koloni per cawan.
3. Saya sarankan, berdasarkan pengalaman saya juga, jika laboratorium yang terdapat pengujian pathogen dan non pathogen, misal kalo pengujian pathogen itu biasanya saya menggunakan media salmonella, staphylococcus aureus, listeria, untuk pengujian-pengujian seperti itu hendaknya menggunakan Bio Safety Cabinet kelas 2 (untuk harga memang lebih mahal dibandingkan dengan Laminar Air Flow). Dan untuk Lab uji seperti koliform, yeast and moulds, dapat menggunakan Laminar Air Flow.
4. Untuk penyimpanan sampel tergantung apakah sampel tersebut stabil suhu kamar atau tidak, jika tidak maka dapat disimpan ke dalam refrigerator. Lalu untuk media yang sudah ready to use misalnya, dapat disimpan di kulkas dengan suhu 2-8Ãâ¹Ã ¡C. Kalo reagent, misal untuk alhokol 70% disimpan dalam ruangan tertentu yang aman karena bahaya flammable, lalu misal untuk reagent suplemen seperti polymyxin itu dapat disimpan di kulkas (sesuai technical sheet)
b. Pertanyaan dari Aryanto :
Ruang mikro saya sudah dipartisi alumunium dan bisa dipastikan sudah steril, hasil uji lingkungan juga di bawah 10 koloni, apakah masih mewajibkan penggunaan alat lamier air flow saat pengujian? Terima kasih
Jawaban Frengki :
Saran saya, tetap harus memakai Laminer Air Flow, karena selain untuk mengamankan sampel uji, cawan petrinya tidak terkontaminasi silang, juga untuk ke aspek safety para pengujinya itu sendiri.
c. Pertanyaan Raja Ervina :
Bagaimana cara kita melakukan cek antara autoclave dan oven Pak? Mengingat suhu yang digunakan lebih dari 100Ãâ¹Ã ¡C dan tidak bisa di cek suhu dengan thermometer air raksa.
Jawaban Frengki:
Untuk Autoclave pada standar KAN untuk cek antara dapat dibantu dengan melakukan indikator biologis, begitu juga dengan Oven.
d. Pertanyaan Sulistia Trikora Astuti :
Untuk acuan kondisi suhu dan kelembaban ruang pengujian mikrobiologi acuan standarnya menggunakan persyaratan mana ya Pak? Terima kasih
Jawaban Frengki:
Sewaktu saya di Laboratorium dan sampai saat ini menggunakan acuan SNI tahun 1992, untuk nomornya saya kebetulan agak lupa, namun untuk sampai saat ini saya belum menemukan adanya refisi yang terbaru, mengenai suhu dan RH.
e. Pertanyaan Adi Mhd :
Ijin bertanya terkait limbah B3 Pak Frengki, untuk saat ini apakah semua provider pemusnah limbah harus menggunakan apllikasi FESTRONIK-nya KLHK? Atau sebetulnya bisa tidak menggunakan FESTRONIK?
Jawaban Frengki:
Jujur untuk saat ini saya belum familiar dengan aplikasi tersebut. Dan yang kami lakukan saat ini, contoh untuk limbah media, media mikrobiologi yang biasanya mengandung zat warna itu kami kumpulkan terlebih dahulu dan kemudian kami kirimkan kepada pihak ke-3 untuk diolah.
f. Pertanyaan Raja Ervina :
Terkait cek antara autoclave dan oven, pada SNI 03 disebutkan cek antaranya dilakukan per hari dengan cek suhu/ bulan / tahun. Lalu kalo dari penjelasan Bapak tadi, cek antara cukup dilakukan menggunakan indicator biologis saja ya Pak? Tidak perlu cek suhu dan kelembaban?
Jawaban Frengki: Jika dilihat dari dokumen KAN, bahwa untuk autoclave dilakukan pengecekan suhu setiap 3 bulan sekali menggunakan termokopel terkalibrasi, kemudian untuk sterilitas digunakan indicator biologis dan termokopel terkalibrasi. Memang untuk simplenya dapat memakai Indikator biologis saja, karena biasanya untuk autoclave itu pengecekannya menggunakan termokopel yang dimasukan ke dalam chamber, dan di kami yang memiliki kompetensi itu adalah personil kalibrasi. Jika personil kalibrasinya memang bisa dijadwalkan untuk pengecekan rutin suhu selama 3 bulan sekali, maka kami bisa menggunakan termokopel tersebut, namun karena beberapa terkendala dan juga alat yang dibutuhkan itu banyak, maka di kami hanya menggunakan indicator biologis saja. Hanya pengecekannya tidak per 3 bulan tetapi dilakukan setiap minggunya. Indikator biologis untuk autoclave dan oven itu berbeda.
g. Pertanyaan Noviyanti Soleha, S.Si :
Ijin bertanya, untuk media yang tidak disterilkan menggunakan autoclave, hanya menggunakan hot plate. Pada suhu berapa dan berapa lama durasi waktunya yang diperlukan untuk melarutkan dan sterilisasi media tersebut?
Jawaban Frengki:
Biasanya sesuai yang tertera di technical sheet, bahwa media harus dididihkan sampai suhu di atas100Ãâ¹Ã ¡C. Dan untuk ini, sebelum dilakukan sterilisasi media, sebaiknya terlebih dahulu dilakukan trial guna mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu 100 Ãâ¹Ã ¡C, karena masing-masing dari hot plate itu sendiri pastinya berbeda-beda, sehingga waktu yang dibutuhkan tidak sama. Yang dikhawatirkan jika terlalu lama durasinya akan membuat tidak efektif, semakin lama sterilisasinya malah akan menjadi rusak. Namun intinya bahwa media tersebut harus secepat mungkin mendidih dan kemudian didinginkan.
h. Pertanyaan Irwinanita, BBKFK :
Selamat siang Pak Frengki, untuk ISO 16140-3:2021 apakah juga berlaku untuk komoditi kosmetik dan kimia pembersih (seperti sabun cuci piring, sabun mandi, pembersih lantai dll)?
Jawaban Frengki:
Yang saya pahami ISO 16140-3:2021 itu global, mencakup bermacam-macam komoditi, sehingga untuk kosmetik harusnya ada juga diatur di situ, di situ general.
i. Pertanyaan Noviyanti Soleha, S.Si. :
Ijin bertanya kembali Pak, Bagaimana cara perhitungan koloni bakteri (parameter total plate count) yang tumbuh pada media agar untuk sampel air minum dalam kemasan? Pernah menemukan koloni bakteri seperti bintik berwarna putih berukuran kecil-kecil tersebar di seluruh media agar, apakah harus dihitung semua? Atau langsung dimasukkan ke dalam kategori TBUD (terlalu banyak untuk dihitung)?
Jawaban Frengki:
Dapat melakukan pengenceran secara bertingkat sampai pengenceran tertentu dimana dapat dilakukan perhitungan koloninya, sehingga jangan langsung ke TBUD.
j. Pertanyaan Irwinanita, BBKFK :
Untuk membedakann antara sampel yang tidak larut dan bakteri yang tumbuh apakah ada pewarnaan yang netral yang dapat ditambahkan pada pengujian TPC?
Jawaban Frengki:
Kami pernah menemui hal yang serupa, pada pengerjaan total plate count di dalam sampel butter, di mana kami sulit menemukan bakteri TPC yang biasanya berwarna putih dengan bulir-bulir lemak. Dan kami biasa menambahkan zat warna , namun ini tidak ada di ISO. Hanya saya kurang begitu ingat nama kepanjangan zat pewarnanya, namun biasa saya menyebutnya zat warna TPC. Jadi kita dapat menambahkan zat warna tertentu untuk membantu pengamatan koloni bakteri saat counting.