Pertemuan Teknis Pembahasan Hasil Uji Banding Lab Kalibrasi dan Pengujian serta Seminar Karya Tulis Ilmiah Buletin Ilmiah P3MB edisi ke-3
Pada tanggal 30 Agustus 2020, bertempat di showroom Ditstandalitu Kemendag, dan secara daring, P3MB Kembali mengadakan Pertemuan Teknis Pembahasan Hasil Uji Banding Laboratorium Kalibrasi dan Pengujian. Sebagai rangkaian acara ini juga dilaksanakan seminar Karya Tulis Ilmiah bagi penulis yang KTI nya sudah lolos seleksi review dan terpilih untuk diseminarkan. Pada kegiatan kali ini, P3MB mengundang 2 Narasumber , yaitu Ibu Fajarina Budiantari selaku Direktur Akreditasi Lembaga Inspeksi dan Lembaga Sertifikasi dari Komite Akreditasi Nasional dan Bapak Rana Rahmada selaku Kepala Laboratorium Kalibrasi PT. Almega Sejahtera yang merupakan Distributor utama alat ukur massa merk Mettler Toledo.
Di SNI ISO/IEC 17025:2017, standar ini menyebutkan tentang Uji Profisiensi untuk Laboratorium Pengujian dan Kalibrasi . Demikian juga untuk laboratorium medis dan Lembaga inspeksi. Badan akreditasi harus memantau kinerja lab yg diakreditasi. KAN sudah tidak lagi menyelenggarakan UP karena sudah melakukan layanan akreditasi. Kebijakan dari APAC dan ILAC, lab yg diakreditasi harus mengikuti UP yg terakreditasi jika memungkinkan. Standar iso 17043 sedang dalam proses revisi. Ibu Fajarina juga menjelaskan tentang pengertian uji profisiensi dan tujuannya. UP disebutkan sebagai persyaratan dalam SNI ISO/IEC 17025:2017 klausul 7.7.2. Keikutsertaan lab dalam Uji Profisiensi adalah pelengkap dari pengendalian mutu, maka Uji Profisiensi tidak bisa menggantikan pengendalian mutu internal. Pengendalian mutu internal tetap wajib untuk dilakukan. Lab harus memiliki program keikutsertaan dalam Uji Profisiensi minimal 1 kali dalam 1 siklus kalibrasi. Variasi teknis pengujian harus dipertimbankan dalam keikutsertaan Uji Profisiensi. Hasil uji profisiensi pada 1 lokasi lab tidak dapat digunakan untuk lab pada lokasi lain. Lab wajib mengikuti UP oleh PUP yang sudah diakreditasi oleh KAN, jika tidak tersedia dapat mengikuti PUP yang diakreditasi oleh negara lain. Jika tidak ada, dapat mengikuti yang diselenggarakan oleh pemerintah atau Lembaga lain yang relevan. Jika tidak ada juga, dapat mengikuti uji banding ataupun uji banding mandiri. Jika sama sekali tidak memungkinkan, maka saat akreditasi lab harus melengkapi bukti penjaminan mutu internal.
Sesi berikutnya diisi dengan tanya jawab dari peserta kepada Narasumber.
1. Erwin : jika hasil UP lama keluar bagaimana?
Fajarina:itu sudah menyalahi akreditasi 17043, dan bisa diinfokan ke KAN untuk menjadi evaluasi.
2. Nurdin : bagaimana prosedur complain kepada PUP jika spesifikasi sampel tidak sesuai?
Fajarina : Harus dipastikan terlebihdahulu untuk kesalahan tidak pada lab peserta. Jika sudah dipastikan, maka dapat dilaporkan ke KAN, jika PUP tersebut sudah diakreditasi oleh KAN.
3. Yudho : Izin bertanya Kembali Bu, misal dalam kelompok minuman, Lab kami mengikuti UP Air Mineral yang mewakili kelompok bidang tsb. Tetapi, apakah semua parameter uji dalam SNI tsb harus ikut serta dalam kegiatan UP Bu? Tks
Fajarina : harus dilihat bidangnya. Jika ada bidang biologi dan kimia, harus ikut setiap bidang
4. Maula, PT SDP : zin bertanya bu, jika kami ingin melakukan perluasan ruang lingkup gaya untuk rentang ukur 20 kN, sedangkan di lab kami sudah mendapatkan akreditasi pada gaya 5 kN. Apakah untuk gaya 20 kN tersebut masih perlu untuk dilakukan uji profisiensi ?
Fajarina: Untuk perluasan ruang lingkup, jika sudah UP di satu bidang maka tidak perlu UP ulang
5. Armas BPSJIPPI : Jika Penyelenggara UP menggunakan Assaign Value dari peserta sebagai tolok ukur keberterimaan, peserta dinyatakan Outlier, tetapi, jika dibandingkan dg CRM, keberterimaannya masih memenuhi. Dalam kasus ini, bagaimana mengevaluasi kinerja pengujian yang dilakukan ? Terimakasih
Fajarina :Jika menggunakan Assign Value dari Konsensus memang memiliki resiko bias yang tinggi. Maka harus berhati-hati dalam evaluasinya
6. Bayu Aji, PT SBI Cilacap : Karena 1 hal Kami pindah penyelenggara UP baru tp parameternya tidak lengkap disbanding penyelenggara lainnya namun parameternya tidak lengkap, hanya tersedia 4 parameter dari 5 parameter yg kami ajukan, bagaimana mnrt ibu?
Fajarina : harus dipertimbangkan terkait pemenuhan kewajiban keikutserta an dalam Uji Profisiensi
Selanjutnya adalah pemaparan dari Bapak Rana Rahmada terkait evaluasi timbangan analitik. Jika timbangan dipakai untuk penimbangan yang teliti, maka kesalahan tidak boleh melebihi dari 0,01 %. Jika kita menetapkan toleransi penimbangan harus mempertimbangkan resiko. Selain itu harus mengevaluasi kebutuhan proses penimbangan, safety factor, dan relevansi nya dengan regulasi yang berlaku terkait standar pengujian yang melibatkan penimbangan. Biasanya, penimbangan dengan massa yang kecil memiliki resiko hasil penimbangan yang lebih besar. Pemilihan timbangan juga harus memperhatikan akurasi dan daya baca. Daya baca timbangan tidak serta merta menentukan akurasi. Daya baca dapat di set sampai digit terkecil, namun tidak dengan akurasi karena akurasi merupakan karakter unik dari timbangan dan merupakan spesifikasi yang dipengaruhi oleh bahan maupun desain dari pabrik.
1. Immanuel:
a. apakah akurasi itu ditentukan dari hasil kalibrasi dari pabrikan alat atau spesifikasi dari material dari pabrik?
b. Sering kali masyarakat bertanya bagaimana menentukan toleransi timbangan terhadap uji mutu di pabrik atau lab jika tidak tersedia di metode uji atau persyaratan lain?bagaimana evaluasinya
Rana :
a. Akurasi timbangan muncul dari performance, system mekanik, kemampuan day abaca, lingkungan penempatan, massa standar kalibrator, petugas kalibrasi. Dan akurasi timbangan dapat berubah. Contohnya jika timbangan dipindahkan, maka kondisi lingkungan dapat mempengaruhi akurasi. Oleh karena itu jika timbangan sudah dikalibrasi di satu tempat, maka tidak disarankan timbangan tersebut untuk dipindahkan.
b. Dapat dlihat dari ketidakpastian pengujian yang ditetapkan. Karena akurasi timbangan akan sangat berpengaruh ke ketidakpastian pengujiannya, jangan sampai ketidakpastian pengujian melewati syarat ketidakpastian pada metode standar.
2. Marselin : Di dalam ISO 17025 : 2017 7.2 ada istilah verifikasi/validasi metode, apakah ini di berlakukan juga untuk labortorium kalibrasi
Rana: jika metode yang digunakan adalah metode in house, harus divalidasi. Jika sudah standar cukup verifikasi
3. Agushadi wibowo : mohon ijin bertanya, dalam ruang timbangan dibutuhkan persyaratan khusus dimana pendingin ruangan dan humidifier dibutuhkan, nah bagaimana dengan ruang timbang yg pada saat operasional kantor saja alat tersebut nyala saat malam hari mati, apakah ada pengaruhnya terhadap efektivitas kerja alat dalam keakuratannya dalam jangka waktu lama
Rana: Harus dilihat minimal dari persyaratan pabrikan. Harus memenuhi kondisinya agar terjamin hasil penimbangannya.
4. Herbet : apakah nilai toleransi bisa berubah seiring terjadinya drif atau performa dari alat tersebut, ataukah toleransinya tetap merujuk dari awal penetapan dari pabrikan.Thanks
Rana : kalau toleransi, ditetapkan oleh pengguna, regulator, atau pabrikan. Jika nilai akurasi dapat berubah akibat drift
5. Yudho : Izin Pak Rana, Apakah nilai LoP (Limit of Performance) bisa dijadikan nilai penimbangan terkecil suatu timbangan? Tks
Rana : LOP jika dikaitkan kepada akurasi. LOP adalah suatu kesalahan yang mempertimbangkan ketidakpastian, koreksi, dan repetability. LOP menggambarkan di rentang mana timbangan tersebut digunakan.
6. Wahyu Pradana : izin bertanya Pak: ketika suatu timbangan digunakan untuk artefak UBLK, hal apa saja yang berpengaruh terhadap validitas hasil UBLK? Terimakasih
Rana : Hal yang terpenting adalah kestabilan dari timbangannya. Kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban, dan kelistrikan.
7. Anisa R : Izin bertanya pak terkait untuk evaluasi sertifikat timbangan, apakah bisa disharing pak, selain yang sudah bapak jelaskan tadi untuk melihat kinerja timbangan masih baik/tidak apakah nilai LOP juga mempengaruhi? bagaimana cara mengevaluasi kinerja timbangan dari nilai
Rana : Besarnya LOP harus dievaluasi dari mana terlebih dahulu. Misalnya dari koreksi, harus dilihat anak timbang yang dipakai untuk adjustment atau kalibrasi apakah terlalu besar ketidakpastiannya. Anak timbang yg digunakan harus dilihat kelasnya. Dilihat dari daya baca maksimum dan dibandingkan dengan penggunaan pada bobot yang mana.
Sesi berikutnya diisi oleh Yudo Purnomo sebagai ketua panitia uji banding lab kalibrasi. Beliau memaparkan tentang hasil Uji Banding Lab Kalibrasi serta menjelaskan mengenai pengambilan dan pengolahan datanya. Setelah itu sesi tanya jawab dibuka.
1. Heru:
a. di protocol tidak disebutkan berapa lama waktu yang ditentukan untuk menunggu timbangan menjadi 0.Jadi berapa lama seharusnya ditunggu?
b. Apakah koreksi buoyancy diperhitungkan dalam nilai koreksi?
Yudo: Protokol pengambilan data disesuaikan denga napa yang berlaku di lab. Neraca tidak dilakukan adjustment. Jika ada lab yang mendapatkan hasil yang memuaskan dan inlier, berarti metode yang digunakan adalah metode yang robust dan tidak terpengaruh oleh perbedaan metode.
Rana: Protokol yang digunakan pada UBLK P3MB juga memiliki tujuan untuk mengetahui metode pengambilan data mana yang robust. Dan airbouyancy tidak digunakan.
Sesi ke 3 diisi dengan pengumuman hasil uji banding lab pengujian. Sampel yang menjadi objek uji banding adalah compound. Peserta uji banding sebanyak 3 laboratorium. Acara dibuka oleh moderator Bapak Agung Sedayu, PMB ahli muda dari Balai Pengujian Mutu Barang. Pembahasan hasil uji banding dibawakan oleh Bapak Herbet Erwin Manurung.
Sesi tanya jawab :
1. Rini: untuk sampel uji tensile yang digunakan memiliki ukuran yang sedikit berbeda dengan ukuran yang biasa dipakai di pabrik di mana setting ukuran sudah menggunakan program bawaan alat. Bagaimana dengan evaluasinya?
Erwin: perhitungan dapat dihitung secara manual dengan mengambil data gaya Tarik saja dibagi dengan luas penampang.
2. Rini: Bagaimana dengan ekstensometer yang digunakan karena sudah otomatis untuk meminimalisir kesalahan operator
Erwin: Pada alat ekstensometer sebenarnya setting dapat dilakukan, hanya saja harus masuk ke superuser untuk mengubahnya.
3. Annisa, BBKK : Apakah ada rujukan Uji profisiensi yang bersifat kualitatif?dan apakah definisi tidak berbeda nyata pada Analisa crack bisa dijelaskan
Erwin : Untuk pengolahan data tidak secara statistic. Ada beberapa produk yang memiliki rujukan material untuk pengujian secara kualitatif contohnya seperti kayu, karet RSS, Kopi, dll.
Arum: Biasanya untuk yang kualitatif seperti uji warna biji kopi. Atau uji cita rasa, dengan menggunakan panelis.
Sesi selanjutnya adalah seminar karya tulis. Panelis pertama adalah Mungki Septian Romas dari BBSPJIS Bandung dengan judul karya tulis Analisa Kualitas Kertas Cetak Tanpa Salut, Studi Kasus Produk 70 Gsm dan 80 Gsm (Karakteristik : Gramatur, Bulk, Tarik, dan Opasitas. Penjelasan materi mengenai Analisa kualitas kertas pada merk tertentu, dan apa saja kelebihan serta kekurangan masing ââ¬â masing merk dan strategi pemasaran dari merk tersebut untuk menarik konsumen terkait dengan mutu produknya.
Panelis ke-2 adalah Bapak Herbet Erwin Manurung, dari Balai Pengujian Mutu Barang. Judul Karya Tulis yang diseminarkan adalah Identifikasi Unjuk Kerja Saringan Kadar Kotoran Pada Pengujian Produk Karet Alam SIR. Materi yang dibawakan berisi pengembangan metode baru untuk memverifikasi saringan yang digunakan pada pengujian SIR parameter kadar kotoran. Metode yang dikembangkan pada dasarnya adalah menghitung waktu yang diperlukan untuk melewatkan terpentin melalui saringan sebagai indicator kondisi saringan yang masih baik atau sudah tersumbat.
Panelis Terakhir adalah Nena Andrina Restu dari BBSPJIS Bandung dengan judul KTI Metode Cepat Untuk Menentukan Perbedaan Jenis Kertas Pembentuk Rokok (Kertas Sigaret dan Kertas Plugwrap Tanpa Porositas. Karya Tulis ini berisi penelitian dan pengembangan metode pengujian kertas rokok yang dilatarbelakangi karena metode standar yang digunakan selama ini membutuhkan waktu yang lebih lama sehingga dapat mengganggu pelaku usaha yang melakukan ekspor sehingga memerlukan suatu metode baru yang dapat mempersingkat waktu pengujian.
1. Soleh,BSPJIKP Jogja : Berapa kali berapa kali pemakaian s/d kelas saringan menjadi B, C, D, dan E?
Erwin : untuk jumlah pemakaian belum dilakukan penelitian lebih lanjut. Namun secara pengamatan singkat, 10 kali juga sudah mulai mengalami perubahan, tetapi bergantung juga kepada kondisi larutan Ketika disaring. Semakin tidak sempurna proses pelarutan, semakin cepat perubahan terjadi.
2. Depi, BPSMB Palembang : Apakah saringan cukup dikalibrasi 1 kali?
Erwin: Untuk kalibrasi sebenarnya tidak cukup 1 kali, karena seiring pemakaian akan terjadi perubahan
3. Armas, BBSPJPPI: Mohon ijin bertanya pak Erwin, membersihkan saringan digunakan suhu mendekati 100 derajat celcius, apakah faktor suhu ini juga dipertimbangkan pada saat mengkalibrasi nya ? Terimkasih.
Erwin: untuk kalibrasi dilakukan pada suhu yang mengikuti metode standar kalibrasi
4. Agus Hadi Wibowo, BPSMB Kalsel : ijin bertanya kepada pak erwin, apabila ditunjukkan dgn waktu td, brarti juga berpengaruh terhadap efektifitas destruksi karet tersebut?
Erwin: Efektifitas destruksi sangat berpengaruh karena kondisi larutan yang tidak sempurna dapat menyumbat saringan. Namun untuk penelitian yang dilakukan ini, semua larutan sudah sempurna dan tidak terjadi pembentukan gel
5. Ari Harsanti, BPMB : zin bertanya untuk pak Mungki, tadi dijelaskan terdapat data median, berapa kali replika pengujian untuk setiap sampel?. Kemudian dari korelasi Pearson diperoleh korelasi antara Gramasi dan Bulky yang signifikan 0.98, apa yang dapat disimpulkan, apakah perlu diuji lagi untuk korelasinya. Terimakasih
Mungki: dilakukan 10 kali dan 20 kali ulangan pada parameter tertentu. Uji korelasi bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara parameter. Untuk pengujian lanjutan sudah tidak diperlukan karena sudah dapat disimpulkan bahwa sudah ada korelasi antara parameter tersebut.
6. Sri Wahyuni, BPMB : bagaimana menentukan bahwa metode cepat yang dikembangkan bisa mengeluarkan hasil yang sama dengan metode yang selama ini digunakan.
Nena Andriana: sudah dilakukan validasi metode saat penelitian.
P3MB member only : Link sertifikat, materi, dan laporan
