Artikel

Maintenance Performance Edisi Ke 5 : Kalibrasi Timbangan Non-Otomatis Sesuai CSIRO:2010 dan Interpretasinya

Maintenance Performance Edisi Ke 5 : Kalibrasi Timbangan Non-Otomatis Sesuai CSIRO:2010 dan Interpretasinya

Maintenance Performance Edisi Ke 5 : Kalibrasi Timbangan Non-Otomatis  Sesuai CSIRO:2010 dan Interpretasinya
Pada webinar seri 5 ini, Tema yang diangkat adalah Kalibrasi Timbangan Non-otomatis dengan mengacu pada metode standar CSIRO:2010. Adapun Narasumber yang membawakan adalah bapak M. Nur Jamaludin, Wakil Ketua Umum 1 P3MB yang berasal dari BPSMB Kalimantan Timur. Acara dibawakan oleh Ibu Mirza Firdyah Astari, Wakil Koordinator Bidang 2 P3MB, dari BSPJI Sumatera Selatan dan dibuka dengan kata sambutan yang disampaikan Oleh Ketua Dewan Pakar P3MB, Dr. Yus Maria yang berasan Dari BSPJIA Bogor.
Materi yang dibawakan oleh Narasumber menjelaskan mengenai prosedur kalibrasi yang mengacu pada CSIRO:2010. Pada kesempatan ini, Bapak M. Nur Jamaludin menjelaskan mengenai sejarah perkembangan standar CSIRO. Untuk Langkah – Langkah yang dilakukan harus sesuai dengan CSIRO, namun untuk perhitungan ketidakpastiannya diberikan kebebasan kepada laboratorium untuk menggunakan acuan tambahan yang relevan sebagai faktor penyumbang ketidakpastian kalibrasinya. Setelah itu, dijelaskan juga prosedur pemilihan kelas anak timbangan yang diambil dari OIML R111.

Selain pemaparan materi, disisipkan juga sesi tanya jawab saat jeda materi. Para peserta webinar mengajukan pertanyaan kepada narasumber dan di jawab untuk tiap 1 orang penanya. Peserta bertanya melalui kolom chat maupun menggunakan fitur raise hand pada aplikasi zoom.

Andi : pak mohon ijin untuk kembali di jelaskan tentang pemilihan anak timbang untuk kalibrasi timbangan
Jamal : menjelaskan Kembali sesuai CSIRO

Cancer Simangunsong (BPSMB Pontianak) : terkait persyaratan fluktuasi suhu dan kelembaban dalam kalibrasi timbangan, Kapan dilakukan dan berapa lama rentang waktu pengukuran fluktuasi tersebut  ? apa dalam rentang selama waktu kalibrasi atau diukur diluar waktu kalibrasi (sebelum kalibrasi)?
Jamal : Ketika ruang timbangan yang sudah terkondisikan, maka bisa langsung dilaksanakan sesuai persyaratan. Menurut pengalaman kami selama ini, 30 Menit sudah bisa dilakukan kalibrasi dengan melakukan penyesuaian kondisi se optimal mungkin.

Yudo Purnomo (BSPJI Padang) : izin bertanya, apakah ada pengaruh terhadap proses kalibrasi jika LK tidak menggunakan meja timbang yg didesain anti getar, tetapi hanya meja lab sebagaimana umumnya.
Apakah kalibrasi tahapan hysteresis dilakukan setiap mengkalibrasi timbangan?

Jamal : Sudah pasti ada pengaruhnya, laboratorium juga sebenarnya harus dapat melakukan investigasi terkait penggunaan meja yang tidak didesain anti getaran. Sebagai contoh dari pengalaman saya, Ketika melakukan kalibrasi di tempat customer, meja yang digunakan adalah meja biasa. Terlihat adanya pengaruh pada repeatibilitynya.
Hysterisis sebenarnya tidak harus, namun sangat baik jika dilakukan. 

Herbet Erwin (BPMB) : apa konsekuensi jika mempergunakan kelas Anak timbangan yang kurang dari persyaratan MPE Anak timbangan tersebut
Jamal : Konsekuensinya adalah hasil unjuk kerjanya yang akan menjadi kurang sesuai dan kemungkinan besar akan tidak memenuhi persyaratan

Wewendria: untuk penentuan histeresis,apabila dipakai half cap.100g,apakah boleh dipakai at 50 g utk pembebanan nya?
Jamal: akan saya sampaikan di slide selanjutnya

Sidna Kosim: Izin bertanya pak. Saya sidna dari bbspjppi semarang. Terkadang saya menemukan beberapa kasus ketika mengkalibrasi timbangan, AC di ruangan itu langsung meniup ke arah timbangannya sehingga tidak bisa menunjukkan nol (naik turun terus). Bagaimana cara mengatasinya pak ? Jika Ac dimatikan, ruangannya akan panas,
Jamal: Arah fan AC sebaiknya tidak langsung ke bawah / arah timbangan. Disarankan agar memakai penutup atau diarahkan ke atas.

Agung Sedayu (BPMB): ijin bertanya pak jamal. Untuk kesimpulan hasil kalibrasi timbangan, pada sertifikat kalibrasi, pernyataan hasilnya apakah hanya menggunakan LOP (Limit Of Performance) saja?ataukah ada cara lain yang menunjukkan kinerja timbangan atau hal lainnya yang dapat digunakan untuk kita bandingkan dengan persyaratan pada metode standar pengujian agar bisa disimpulkan apakah timbangan tersebut masih layak pakai atau tidak.
Jamal: Pada umumnya memang menggunakan LOP, karena penggunaan LOP adalah yang paling mudah dalam membandingkan kinerja timbangan dengan metode uji standar yang digunakan.

Wewendria (BSPJI Padang): Ijin bertanya pak Jamal,apabila ada permintaan pelanggan utk titik ukur  koreksi yg mana permintaan titik ukurnya di 10 titik di luar persentase secara prosedur.itu gimana pak?apakah juga harus dimasukkan titik yg masuk pada persentase kapasitas yg ditentukan?
Jamal: Untuk titik ukur, selain per 10% dapat juga dimasukkan sesuai permintaan customer

Sidna Kosim: Izin bertanya Kembali pak.  1. Ketika kita menyimpan anak timbang di pan timbangan, drmn kita tahu bahwa posisi anak timbang itu ditengah pak ? Apakah ada tanda di pan atau seperti apa ?   2. Untuk pengecekkan pembebaban tidak ditengah, apakah harus selalu berurutan depan belakang, kanan kiri pak ? Atau boleh tdk berurutan ? Kalau tdk berurutan, apakah ada impact nya ?
Jamal:
1. Untuk penempatan dapat diperkirakan. Untuk beberapa merk timbangan, ada yang memiliki tanda. Jika tidak ada, dapat dikira-kira saja
2. Tidak harus berurutan, karena nanti akan diambil nilai akhirnya saja

Khairina Sarah  (BPSMB Kalsel) : ijin bertanya, bolehkah kita memakai nilai drift dari 8% MPE, walaupun kalibrasi alat standar telah dilakukan lebih dari 2x?
Jamal:Nilai drift beserta nilai yang lainnya tetap harus dibandingkan dengan persyaratan dalam standar. Namun jika nilai drift terlalu besar, disarankan agar mengganti / diperbaiki jika bisa, karena dikhawatirkan untuk nilai pada kalibrasi selanjutnya akan tidak memenuhi persyaratan dan hasil pengujian sebelumnya dipertanyakan keakuratannya

Juandika(BPMB): ijin bertanya pak, perbedaan antara kalibrasi dan cek antara secara garis besar apa saja. minimal seperti apa kalua cek antara, apakah harus sama dengan kalibrasi?
Jamal: Cek antara bisa dengan kestabilan,melalui Standar Deviasinya. Dilakukan dengan repeatability test. Contohnya jika SD nya lebih kecil dari 2x SD yang sebelumnya, maka bisa dipastikan timbangan masih dalam batas yang normal.

Juandika: pak, apakah boleh jika kalibrasi timbangan tidak mengikuti full scale. katakanlah kita punya kapasitas 220 g, tapi kita minta sampai 100 gr saja berhubung sampel yang ditimbang tidak pernah lebih dari 20 gr?
Jamal: Secara teoritis, harus full scale. Tapi boleh dikalibrasi di rentang kerja user.


Artikel lainnya:

Silahkan masuk untuk menambahkan komentar. Tidak punya akun? Daftar akun.